Benang dan Ramadhan
Indonesia memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi kalo kita lihat sekeliling kita atau bahkan diri kita sendiri, fakta ini tidak merepresentasikan kalo penduduk Indonesia berperilaku selayaknya seorang muslim. Di zaman sekarang ini, korupsi sudah menjadi hal biasa, membuka aurat merupakan mode, seks bebas bagian dari pergaulan, dan fakta-fakta miris lainnya. Agama yang seharusnya menjadi pengendali tata perilaku penganutnya kini hanya sekedar menjadi pelengkap identitas saja.
Jujur aja saya sering berpikir seperti ini, masalah di negara ini sudah ibaratkan benang berbagai warna terus kusutnya barengan, digimana-gimanain juga benangnya akan tetap kusut. Dari pada ngurusin ngelurusin benang, mending ngurusin diri sendiri aja, sikap apatis seperti ini kayaknya sikap paling aman. Biarin aja lah yang lain mo kaya apa, yang penting saya ga kaya mereka para pembuat benang kusut. Saya akan jaga benang saya tetap lurus. Tapi coba pikir sekali lagi, benang saya yang lurus ini ternyata ada dalam kekusutan benang-benang lainnya, tetep aja benang kita akan kusut karena kalo pun bukan kita sendiri yang bikin benang kita kusut, toh suatu saat orang lain akan membuat benang kita ikut-ikutan kusut. (Ngerti ga yah yah bacanya hahaha, mending beli benang baru kali yah hehe)
Terus apa hubungannya benang dengan Ramadhan? Nah gini, permasalahannya itu ibarat tiap orang di negeri ini adalah benang, maka setiap benang akan bersinergi untuk membuat sebuah karya (cth: baju, celana, dll), kesinergian antar benang ini untuk membuat sebuah baju/celana tersebut tergantung dari keahlian penjahitnya (analoginya Pemimpin), dan tentunya kemauan benang-benang tersebut untuk bersinergi (baca: orang=benang). Jadi baju/celana ini ga akan jadi kalo si Penjahit tidak punya keahlian dan si Benang ga punya kemauan. Disinilah dibutuhkannya sesuatu yang dapat dijadikan pedoman agar si Penjahit punya keahlian dan si Benang punya kesadaran untuk bersinergi, pedoman membuat baju/celana inilah dianalogikan sebagai Agama. Dengan adanya pedoman ini, si Penjahit akan tau bagaimana cara menghasilkan sebuah baju yang bagus, si Benang juga akan mematuhi kehendak si Penjahit karena mereka berdua berpegangan pada pedoman yang sama.
Dengan adanya Ramadhan ini seharusnya bisa jadi momentum agar kita (baca:benang) kembali ke pedoman kita sebagai seorang muslim yaitu Quran dan Hadis. Jangan menjadi apatis dengan lingkungan sekitar, jaga benang kita agar tidak kusut dan bersinergi dengan benang lain (baca:orang lain) untuk menghasilkan karya maksimal. Berkembanglah dan jadilah penjahit yang menuntun benang-benangnya untuk menghasilkan karya-karya. Dengan ini saya yakin suatu saat negeri ini akan bisa mengurai benang-benangnya yang kusut karena semua penjahit dan benangnya telah mengikuti pedoman yang benar.
Analogi pada tulisan ini tidak sepenuhnya benar, silahkan interpretasikan saja maknanya, karena pada dasarnya benang adalah benda mati dan penjahit adalah makhluk hidup hehehe :D. Selamat Ramadhan
